Selasa, 08 November 2011

Ibu Tien

Raden Ayu Siti Hartinah (lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 – meninggal di Jakarta, 28 April 1996 pada umur 72 tahun) adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil "Tien" merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu.

 Siti Hartinah
Siti Hartinah

 Ibu Negara Indonesia ke-2
Masa jabatan
12 Maret 1967–28 April 1996
Presiden Soeharto
Pendahulu Fatmawati Soekarno
Pengganti Hasri Ainun Habibie

Lahir 23 Agustus 1923
Surakarta, Jawa Tengah
Meninggal 28 April 1996 (umur 72)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Suami/Istri Soeharto
Anak Siti Hardijanti Rukmana (Tutut)
Sigit Harjojudanto (Sigit)
Bambang Trihatmodjo (Bambang)
Siti Hediati Hariyadi (Titiek)
Hutomo Mandala Putra (Tommy)
Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)
Agama Islam


Jadi,beliau juga terhitung sebagai keturunan bangsawan Mangkunegaran. Sejak berusia remaja, ia telah terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Ia tercatat sebagai Laskar Putri di Solo, aktif selaku anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan ketika masa pendudukan Jepang ia tercatat menjadi anggota organisasi wanita bentukan Jepang, Fujinkai.

Pernikahannya dengan Letkol Suharto pada tanggal 26 Desember 1947 mengharuskannya mengemban tugas dan tanggung jawab lebih besar seiring dengan terus meningkatnya karier militer suaminya. Terlebih-lebih setelah suaminya diangkat menjadi presiden ke-2 RI.

 

Menjadi Ibu Negara tidak serta merta membuatnya diam berpangku tangan. Ia terus terlibat dalam berbagai organisasi sosial dan budaya. Untuk menolong rakyat Indonesia yang kurang beruntung, ia membangun Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita, serta Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, yang kesemuanya berada di Jakarta. 

Ibu Tien juga berkeinginan budaya bangsa Indonesia semakin dikenal rakyat Indonesia dan juga rakyat negara lain. Untuk itu ia membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ia juga menggagas kemajuan rakyat Indonesia dengan mengadakan Perpustakaan Nasional. Berbagai jabatan dalam berbagai organisasi sosial juga diembannya. Ia tercatat sebagai ketua pada Yayasan Dharmais, Yayasan Harapan Kita, dan Yayasan Dana Gotong Royong.


Meninggal Dunia



Ibu Tien wafat di Jakarta tanggal 21 April 1996. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Keluarga Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah. 

Sebenarnya penyebab meninggalnya Ibu Tien juga misterius. Itu karena beredar 3 versi isu mengenai kematian beliau, yaitu karena penyakit jantung, Tertembak peluru tepat di jantung, dan ada yang bilang kalau itu santet. Namun dikatakan kalau Ibu Tien meninggal akibat penyakit jantung yang menimpanya pada Minggu, 28 April 1996, di RS Gatot Subroto, Jakarta. Berawal dari saat ibu Tien terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu dilarikan ke RS Gatot Subroto. 

Walaupun tim dokter telah berusaha maksimal,tapi takdir berkata lain. Ibu Tien meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, jam 05.10 WIB.Soeharto sangat lama merasa terpukul atas kematian Ibu Tien.


Ibu Tien dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah, pada 29 April 1996 sekitar pukul 14.30 WIB. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf G. Manurung, Komandan Brigif 6 Kostrad saat itu.

Sedangkan sebelumnya saat pelepasan almarhumah, bertindak sebagai inspektur upacara, Letjen TNI (Purn) Ahmad Taher dan Komandan Upacara Kolonel Inf Sriyanto, Komandan Grup 2 Kopassus Kartasura zaman itu. Belakangan diketahui bahwa saat pemakaman Soeharto sempat jatuh pingsan, karena syok kehilangan sang istri yang menjadi simbol kekuasaan dan kewibawaannya

Beberapa hari setelah pemakaman Ibu Tien selesai, Soeharto berpidato di Cendana yang intinya sebagai ucapan terima kasih atas semua bantuan yang diberikan. Dalam acara tersebut terlihat anak-anak Soeharto duduk di lantai. Terlihat di antara anak-anak Soeharto, Bambang lah yang paling tertekan. Dia terlihat memeluk guci dengan tatapan yang kosong.

Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah Indonesia mengangkat Siti Hartinah selaku Pahlawan Nasional pada tahun 1996. 




Tidak ada komentar:
Write komentar